Saturday, July 03, 2010

Meet Melly and Sarah

“Di tempat ini semua anak diterima”


Terdengar cukup menyenangkan ya? Di tempat inilah kini saya menghabiskan sebagian besar waktu saya pada working days. Sejak bulan Juli yang lalu saya kembali mengajar di sebuah sekolah Inklusi di daerah depok dua tengah, SMPIF Al Fikri. Seperti tiga tahun yang lalu, saya kembali menjadi guru bahasa Mandarin di sana. Menjadi guru mungkin bukanlah profesi yang saya impikan sejak dulu, juga bukan obsesi yang sangat ingin saya kejar, tapi menjadi guru definitely is a fun work. Terlebih di sekolah ini di mana semua anak diterima.


Begitu banyak sekolah swasta berdiri di Depok ini, begitu banyak penawaran pendidikan dengan berbagai bentuk system yang berbeda. Al Fikri adalah salah satunya. Sekolah ini berbasis Islam Fitrah yang memandang setiap anak sesuai dengan fitrah mereka. Sekolah ini bersistem inklusi, di mana semua anak dengan berbagai macam kelebihan dan kekurangan diterima dengan tangan terbuka. Mereka tak dipisahkan di kelas tertentu, tapi berbaur dengan siswa lainnya sesuai dengan grade yang sesuai dengan usianya. Akan ada shadow teacher yang mendampingi mereka setiap harinya dan membimbing mereka agar terbantu mengikuti pelajaran. Di sinilah mungkin letak perbedaan Al Fikri dengan sekolah Islam lainnya, dan dampak dari sistem inklusi inilah yang ingin saya ceritakan dalam postingan kali ini.


Tiga tahun yang lalu saat sekolah ini pertama kali dibuka, Afifah Tas’a Jahara adalah satu-satunya murid dengan kebutuhan khusus yang ada di sekolah ini. Saya pernah berpengalaman menjadi shadow teacher (guru pendamping) untuknya, you can read the whole story here and here. Tahun-tahun berikutnya, SMPIF Al Fikri semakin banyak mendapatkan berkah ini. Di tahun ini tak kurang dari enam siswa berkebutuhan khusus yang tersebar di beberapa kelas. Ada Melly dengan kelainan bipolar nya, Sarah dengan Asperger nya, Vian (saya nggak terlalu tahu apa kelainan Vian), Ozy dengan kemampuan akademik yang jauh di bawah rata-rata (sekarang ia duduk di kelas 9, tapi belum bisa membagi bilangan dengan benar),lalu Kiki dan Ary dengan kemampuan berkonsentrasi yang kurang. Setiap harinya saya dan teman-teman (para pengajar di SMPIF AL Fikri) harus berhadapan dengan mereka, menjadi orang tua kedua dari mereka.


Pagi hari merupakan saat yang sangat sulit untuk Melly. Seperti pagi ini, ia mengamuk di ruangan kepala sekolah, didampingi oleh ayahnya. Hal ini memang selalu terjadi setiap hari, seperti mesin yang perlu dipanaskan untuk kemudian dipakai, Melly selalu membutuhkan setidaknya satu sampai dua jam terlebih dahulu untuk beradaptasi dengan keadaan sekolah, setiap hari. Saya dan para guru nggak pernah tahu adaptasi seperti apa yang akan Melly hadirkan, karena setiap pagi pasti berbeda. Terkadang ia akan masuk ruangan kantor dengan senyum yang sumringah dan bernyanyi lagu yang ia suka (belakangan ia sedang suka lagu Sherina yang Pergilah Kau). Di hari lain dia akan menghentakkan kakinya kesal dan melewati ruangan guru begitu saja, langsung menuju ruang perpustakaan. Hari berikutnya dia akan langsung menuju ruang guru dengan wajah tertekuk dan berteriak pada salah satu guru “Pak Uhaaaannn.... hari ini aku BETE!!!” begitu katanya.


Lain Melly, lain lagi dengan Sarah. Gadis cantik ini walau terlihat selalu menunduk di mejanya dan tidak memfokuskan perhatiannya ke depan kelas, sebenarnya ia sedang memperhatikan pelajaran. Saat masuk ke kelasnya untuk pertama kali, saya mengajar siswa di sana untuk memperkenalkan diri dengan bahasa Mandarin. Sarah menunduk saja sepanjang pelajaran. Saya sempat khawatir ia tak dapat mengikuti pelajaran, namun saat menyuruhnya memperkenalkan diri dengan bahasa Mandarin di depan kelas, Sarah tersenyum sumringah dan mengikuti instruksi saya dengan benar. Saat itulah saya sadar kalau memang begitulah normalnya ia, memperhatikan apa yang saya ajarkan dengan caranya sendiri. Sarah lebih fasih berbahasa Inggris dibanding bahasa ibunya sendiri, jadi bicara dengannya harus lebih banyak menggunakan bahasa kompeni tersebut, ya nggak apa deh itung-itung belajar conversation gratisan hehehe... Sebelum menulis postingan ini, Sarah menghabiskan waktu istirahat pertamanya dengan membaca buku 100 Great Cities of The World di meja saya. Ia langsung membuka lembar tentang kota London dan berulang kali berkata “I love this place,  i will go to there if i finish the competition”. Bu Alam kepala sekolah kami tersenyum khawatir seketika. Sekolah kami memang berencana mengikuti sebuah kompetisi bahasa Inggris yang diadakan oleh salah satu instanti pendidikan di mana hadiah utamanya adalah berjalan-jalan ke London. Sejak Sarah melihat poster kompetisi itu dan mendengar penjelasannya dari guru bahasa Inggris, ia tak berhenti berkoar di rumahnya kalau sebentar lagi ia akan pergi ke London. Beruntung orang tuanya langsung menambahkan “If you finish the competition until final” kalau nggak, saya nggak tau deh bagaimana tantrumnya dia saat tahu yang memenangkan hadiah itu adalah orang lain. Bayangan tentang hal sedih itulah yang kemudian menghadirkan senyum khawatir di wajah bu Alam tadi. Well... semoga... SEMOGA saja Sarah bisa memenangkan kompetisi itu dan berangkat ke London. Karena saya belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi seandainya dia kalah. Siang ini saja, saat ia tak bisa menyelesaikan lembar reinforcement Matematika, ia menangis meraung-raung dan berkata “Today is a really bad day”.


Melly dan Sarah membawa dinamika baru dalam hidup saya. Kehadiran mereka membuat hari saya selalu berbeda. Saya datang bekerja selalu dengan pertanyaan yang sama. Apakah Melly akan mengamuk lagi hari ini? Apakah Sarah akan kembali tantrum karena ketidak teraturan dalam harinya? Okay, untuk hari ini saya baru bisa share tentang mereka berdua. Tentang yang lainnya, menyusul berikutnya yaaa..



Have a great day friends
-bee-
030810


Tantrum: an emotional outburst that is typically characterized by stubbornness, crying, screaming, defiance, angry ranting and a resistance to attempts at pacification. Physical control may be lost, the person may be unable to remain still, and even if the "goal" of the person is met he or she may not be calmed. -wikipedia-




disadur dari : sitty asiah 
http://arthepassion.multiply.com/journal/item/247/Meet_Melly_and_Sarah

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan beri komentar Anda mengenai artikel diatas di kolom ini:

TRaffic meter

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More